Pertemuan Rahasia

´Jangan kemana-mana.bahkan kibasan ujung jilbabmu pun sangat menganggu hatiku. Mungkin mataku bisa menunduk, tapi hatiku tidak bisa” katanya.
Sontak wajahku memerah, antara bersalah dan tersipu malu. Aku harus bagaimana jika jalan yang kulalui selalu sama denganmu akhir-akhir. Dan seperti sudah terjadwal kamu pun melewati dari sisi yang berbeda. Aku hanya bisa menunduk. Dan membiarkan angin membuat jilbabku sedikit goyang.
”Kamu ingat saat kita pertama kali bertemu? Kita satu ruangan, aku duduk 10 meter darimu dan saat itu aku tak bisa membedakan mana suara drum mana hati. Sangat mendebarkan, akupun bisa mendengarnya padahal dissekitar musik mengalun cukup keras. Mungkin kamu tidak ingat, atau bahkan tidak tahu. Karna kamu sangat serius menatap lembaran kertas yang kau pegang, dan maaf waktu itu aku mneyimpulkan bahwa hobimu membaca dan ternyata benar” katanya.
Cukup lama aku mengingat bagian ini, karna memang sy tergolong orang yang pelupa. Tapi aku mengingat tepat bagian yang satu ini disaat ada orang yang sedari acaranya dimulai sudah melihat kearahku, sy kira semua mata sudah tertuju kearah panggung yang tergolong meriah, bukan kearah diriku. Aku menggenggam kertas dan menundukan pandangan. Seolah-olah membaca menutupi gemetar. Ada rasa takut dan malu disana, aku takut dengan keramaian disini dan bersamaan dengan ada orang yang mmperhatikan.
“Berkali-kali aku kembali ketempat yang sama berharap ada kmau atau sekdar tau sedikit informasi tentang kamu, soal nama ternyata teman kursi sebelah sudah tau terlebih dahulu namamu, hinggasatu waktu kita dipertemukan lagi diruang yang berbeda dan kondisi yang berbeda, kamu datang hanya membawa blocknote dan bolpoin hitam. Masuk ruangan dnegan tersenyum dan duduk tepat disampingku. Seketika tubuhku kaku membiru” katanya.
Aku sangat terburu-buru waktu itu. Hari itu sangat melelahkan harus dipertemukan dengan sekian banyak orang dan berbicara sekian banyak kosakata. Aku tau kau terlambat banyak dipertemuan kali ini. Dengan menghela nafas panjang aku beranikan muncul didepan teman-teman satu perjuangan, dan masuk dengan senyum simpul tanpa rasa bersalah seolah-olah tidak terjadi apapun. Dan aku mengambil tempat duduk teraman dan terdekat. Dan ternyata kita seperjuangan dan aku baru tau namamu sejak saat itu.
“Saat semua berjalan dan kita sering dipertemukan, entah Tuhan menakdirkan apa untuk kita. Tapi aku semakin kacau jika terus didekatmu, hingga suatu waktu kau meminta dibonceng untuk suatu urusan, dan sungguh seblumnya aku ingin menawarkan seblum kau meminta, karna matamu yang seolah berteriak kelelahan, waktu itu sebenarnya aku tak ada urusan apapun tapi aku juga tidak tahu kenapa mendekati motor dan membuatmu harus meminta terlebih dahulu, sungguh ini kebahagiaan atau bencana, hingga akhirnya kau membuka percakapan” katanya. Mungkin bukan hanya kamu yang mendengar mataku berbicara, mungkin semua, tapi hanya kamu yang nganggur waktu itu dan mendekati motor, dan kutanya ternyta tempat tujuan kita sama. Yasudah kita seperjuangan bukan?. Maapkan percakapan waktu itu terkesan berat, menyinggung apapun dan kau malah bercerita tanpa diminta padahal aku hanya bertanya satu kalimat. Dan aku juga baru tahu tentang dirimu saat itu.
“entah Tuhan meakdirkan apa untuk kita. Aku berdoa yang terbaik. Walaupun aku semakin kacau. Mencarimu bukan perkara mudah. Walaupun ternyata teman-temanku sudah sangat akrab dneganmu” katanya.
Tuhan sllu memiliki rencana yang baik. Tidak usah merepotkan diri menerka akhirnya, lakukan saja yang terbaik hari ini, pasti nanti hasilnya oun akan terbaik.
“Waktu sungguh terasa lama saat pertemuan kita smkin hari smkin berkurang dan habis, hanya takdir baru yang bisa mempertemukan kita lagi, aku atau kamu yang lebih dulu menyapa, sungguh aku tak yakin diriku bisa. Ingatkah kamu saat tersenyum dari kejauhan, aku kira itu untukku aku balas penuh keyakinan. Ternyata bukan kau tersenyum dan menyapa teman disebelahku, temanku. Sungguh malu. Dan aku hanya bisa menundukkan pandangan dan melihat kibasan jilbabmu. Itu berkali-kali terjadi” katanya.
Yang ini aku tidak sengaja, sebenarnya ingin menyapamu juga, tapi kamu tertunduk, dan sempat lupa dengan namamu. Tapi aku masih ingat dengan wajamu dan terutama dengan kacamatmu.
“Gerimis senja dan ada gadis yang memainkan air didekat kolam, kuperhatikan sejenak apapula gadis itu tidak takut basah malah tertawa. Aku sudah cukup lama disana berteduh menunggu reda, takut skali basah, dan gadis itu justru asik bercengkrama dengan air. Sontak kaget ternyata itu kamu, lagi-lagi maaf aku menyimpulkan kau suka air dan ternyata benar” katanya.
Aku memang suka dengan air, tapi juga takut basah, makanya hri itu aku tertawa. Kamu saja yang cemen mungkin.
“Hari itu libur dan aku luangkan membuka sosial media, aku memang tidak terlalu gandrung dengan tekhnologi. Dan entah bisikan dari mana aku mengitik namamu dikolom pencarian. Aku buka dan ternyata isinya tenatng postingan orang lain yang kau bagikan, bermanfaat. Aku menduga kau sudah menguasai betul semua bidang” katanya.
Tidak juga, sedang belajar, makanya hanya membagikan bukan menulis sendiri, haha kebanyakan menduga deh yaa..
“Aku sedang menikmati makan siangku, dan kamu berjalan cepat menuruni tangga. Sungguh kamu terlihat sangat emm cantik jika seperti itu, aku melihat kamu terburu-buru dan aku bertanya knpa hanya berjalan bukan berlari, hingga kau memberitahuku bahwa tidak suka berlari” katanya.
Ia memang tidak suka. Takut terpeleset dan jatuh lebih tepatnya. Haha saya cemen.
Jangan datang jika hanya sedirian, aku takut keramaian tapi mungkin untuk yang satu ini aku akan melawan rasa takutku jika kau membawa rombongan kerumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

87 + = 97